Hallo, Dresden

IMG_9367

Hampir setiap tahun kami ikut menemani suami dinas di luar kota. Perjalanan dengan menggunakan kereta kurang lebih 4,5 jam dari kota tempat tinggal kami. Kebetulan juga jadwal dinas-nya bapak anak2 lebih sering ketika musim dingin datang.
Ketika itu, kami tiba di Dresden hampir tengah malam dan suhu berkisar minus 6C. Hotel di mana kami menginap kebetulan dekat sekali dari kota tua.

Karena hari sudah malam dan mungkin bisa jadi kota ini terlihat sangat sepi sekali, di dalam kereta pun juga tidak banyak orang. Kanan kiri jalan ada beberapa bangunan2 yang masih diperbaharui. Ya, inilah kota Dresden di Jerman. Kota tua ini akan membawa para traveller seolah kembali ke abad 18.

Processed with VSCOcam with j6 preset

Walaupun hari ini Dresden tampak cantik, tidak ada yang menyangka kota ini pernah hancur lebur. Pada Perang Dunia II, pesawat-pesawat Inggris membombardir seluruh kota untuk melumat kekuatan Nazi Jerman. Berbagai bangunan bersejarah termasuk Frauenkirche, tinggal puing-puing belaka.

Inilah gereja Frauenkirche, juga terlihat patung Martin Luther bapak reformasi gereja, yang berada di halaman gereja Frauenkirche. Patung di depan gereja Frauenkirche itu pun menjadi monumen peringatan menentang perang dan penghancuran.

Processed with VSCOcam with j4 preset

Frauenkirche (Church of Our Lady), gereja kristen Lutheran yang paling terkenal di Dresden dan menjadi icon kota tersebut. Gereja ini hancur dibom saat Perang Dunia ke-2 dan dibangun kembali setelah bersatunya Jerman tahun 1990.

Gereja Frauenkirche ini sangat mudah di temukan karena letaknya berada di tengah kota tua Dresden. Jika ingin menikmati keindahan dalam gereja tanpa berdesak-desakan dengan pengunjung lainya saya sarankan untuk datang di pagi hari saja, sebelum menjelang siang. (FYI: di sekeliling Frauenkirche ada banyak restaurant dan cafe, yang menyajikan makanan asia, eropa dan amerika).

Ini adalah jembatan Augustus atau Augustusbrücke jembatan tertua di Dresden, jembatan diatas sungai Elbe.

IMG_9371

Melewati Augustusstrasse (Jalan Augustus), di jalan tersebut terletak lukisan besar di dinding, Fürstenzug, menggambarkan raja-raja yang pernah berkuasa di Sachsen (Saxony). Kemudian lukisan sepanjang 100 meter tersebut diganti dengan porselen dan menjadi karya seni porselen terbesar di dunia.

Processed with VSCOcam with j4 preset

Karena ada beberapa tempat yang masih tidak sempat kami kunjungi seperti Semper Oper, Zwinger, Goldener Reiter, juga di Dresden banyak pula museum terkenal seperti Deutsche Hygienie Museum, Transport Museum, akan menjadi list selanjutnya untuk kami jika berkunjung ke Dresden kembali.

Dresden memiliki area perbelanjaan yang sangat luas, yaitu di daerah bernama Altmarkt (Old market) dengan salah satu pusat pertokoan terkenalnya Altmarkt Gallerie. Altmarkt bisa dicapai dengan berjalan kaki selama kurang lebih 5 menit dari Frauenkirche.

Dan jangan lupa juga untuk mencoba kue khas dari kota cantik ini seperti, Baumkuchen dan Dresdner Christstollen yang terkenal itu.

Berlin Kota Yang Tidak Mudah Untuk Ditinggalkan – bagian 1

Apa saja ada di Berlin. Maksud saya, di hari Minggu pun beberapa Supermaket buka. Dan Berlin, selalu ramai dengan pengunjung. Gemerlap malam kotanya pun sangat cantik. Ya, Ibukota yang satu ini selalu membuat kerinduan tersendiri buat saya. Mungkin karena dari awal saya berasal dari kota metropolitan, keramaian di kota Berlin selalu menarik perhatian saya.

Di masa lampau, kota ini merekam banyak peristiwa besar. Pasca-Jerman bersatu, Berlin tumbuh menjadi kota metropolitan. Masih banyak lagi kisah sejarah yang tertinggal di sini.

Kuliner. Sudah pasti tujuan saya ketika berada di luar kota. Kuliner halal pastinya.

Awalnya saya tidak begitu suka dengan masakan Arab – semisal masakan Turki, Libanon, Persia, dsb. Lama2 masakan ini membuat saya ketagihan. Mungkin karena masakan ini pun selalu menjadi favorit bagi suami saya. Sepertinya virus ini sudah menular 😀

Berlin, selalu menjadi kota paling favorit buat saya dan suami. Terkadang kalau long weekend datang, Berlin pun yang menjadi tujuan liburan kami.

Di Berlin, menurut saya dan suami untuk makan termasuk murah dibandingkan dengan kota2 lainnya di Jerman. Dan porsi makanannya pun tergolong banyak.

Ada restoran Libanon yang bernama El-Reda. Dulu saya sering menemani teman2 makan di sini dan saya hanya menemani saja karena ya itu saya ngga begitu tertarik untuk mencoba menunya. Lalu suami saya cerita kalau El-Reda itu restoran paling ramai dan paling enak. Restoran ini pun tutup pukul 03:00 pagi. Wuah, semakin menjadi rasa penasaran saya.

Ternyata benar adanya, hampir setiap hari menu ini menjadi favorit buat keluarga kecil saya ketika di Berlin. Nasi Basmati, daging kambing panggang, dan saos sambal pun tersedia di sini, konon katanya saking banyaknya orang Indonesia yang makan di sini jadi yang punya resto pun menyediakan sambal. Jangan lupa jika mampir ke Berlin luangkan waktu ke El-Reda. Pasti anda pun dibuat ketagihan.

Ishin, restoran Jepang yang mempunyai menu berbeda dari restoran Jepang lainnya. Ada banyak Ishin di Berlin, tapi dari awal yang saya kunjungi adalah Ishin yang di daerah Friedrichstraße. 

Asari Cey-Ro, nasi jepang dengan tumis kerang dara, ditambah saos berbumbu yang rasanya pedas manis, acar Jepang, rumput laut, irisan batang teratai dan daun bawang, luar biasa enak. Harga 1 porsi ini cukup 4,5 Euro saja (itu tahun 2009). Kemarin ini harganya sudah 6,5 Euro. Serius, beneran puas makan di Ishin dan selalu pesan menu yang satu ini.